Liputanberita21.com - Fenomena pernikahan beda usia yang cukup
jauh antara mempelai kembali terjadi di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Sulaeman Daeng Ngampa (62), warga Kabupaten Gowa menikahi gadis
pujaannya yang masih belia, Diana (18), Minggu (16/7).
Setelah duduk bersanding dalam balutan busana pengantin ala
Makassar
disaksikan sanak saudara dalam pesta yang cukup ramai, kini sang
pengantin beda usia itu resmi jadi suami istri. Keduanya berasal dari
kecamatan berbeda di Kabupaten Gowa. Diana, remaja yang beranjak jadi
gadis dewasa ini bersama orang tuanya tinggal di Dusun Moncongloe, Desa
Paccellekang, Kecamatan Patalassang, sedangkan sang suami Sulaeman Daeng
Ngampa, kakek lima anak itu tinggal di Desa Belapunranga, Kecamatan
Parangloe.
Agak berjauhan memang domilisi keduanya, tetapi karena
Sulaeman Daeng Ngampa yang disebut-sebut orang kalangan ada yang
memiliki banyak sapi itu berteman baik dengan Daeng Caco, ayah dari
Diana, Sulaeman pun kerap mengunjungi rumah Diana.
Kunjungannya
untuk membeli alat-alat pertanian, karena Daeng Caco adalah seorang
pandai besi atau dalam Bahasa Makassar disebut Padedde Berang. Dari
kunjungan ke kunjungan inilah mengawali rajutan rasa cinta antara
keduanya, Sulaeman yang baru setahun lalu ditinggal mati istrinya,
sementara Diana remaja manis sehari-harinya membantu ibu tirinya, Daeng
Isa mengurusi adik-adiknya.
Irnawati Daeng Baji (36), staf Desa
Pacellekang yang mengurus izin nikah menjelaskan, awalnya yang datang ke
kantor desa itu, Selasa (11/7) adalah Diana, calon mempelai perempuan
didampingi kepala dusun untuk mengurus surat keterangan izin nikah dan
surat keterangan asal orang tua.
Berkasnya dibawa untuk
ditandatangani oleh Kepala Desa Paccellekang, H Zaenal Arifin Daeng
Mangu untuk selanjutnya administrasinya diselesaikan di Kantor Urusan
Agama (KUA) Kecamatan Patalassang. Keesokan harinya, Rabu (12/7), Diana
datang lagi ke kantor desa bersama calon mempelai laki-laki untuk
imunisasi dan suntikan KB buat pengantin dari bidan.
"Jadi
Sulaeman dan Diana menikah, Minggu (16/7). Cukup ramai pestanya," tutur
Irnawati Daeng Baji yang dikonfirmasi, Senin (17/7).
Irnawati
sempat ke rumah Diana di Dusun Moncongloe, Desa Patalassang bersama
sejumlah tamu, Senin pagi, (17/7). Kata Irnawati Daeng Baji, suasana di
dusun itu pasca-pernikahan kakek dan remaja belia itu biasa-biasa saja.
Sanak keluarga bergembira layaknya keluarga-keluarga lain usai menghelat
pesta. Bahkan saat berbincang-bicang, Sulaeman kerap mencandai istri
mudanya itu yang membuat sang istri muda tersipu-sipu.
"Memang
Sulaeman itu sudah lanjut usia, tergolong sudah kakek-kakek tapi
penampilannya masih terlihat rapi dan bersih jadi terlihat cocok saja
berdampingan dengan istrinya," kata Irnawati.
Saat ditanya,
bagaimana proses menyatunya cinta Sulaeman dan Diana ini, Sulaeman
sempat bertutur bahwa mereka tidak didahului saling ungkap rasa suka,
rasa cinta. Tercipta begitu saja karena kerap bertemu.
"Saya
berteman dengan bapaknya Diana jadi kerap ke rumahnya untuk pesan
alat-alat pertanian. Kalau datang, yang sajikan kopi itu Diana. Dari
pertemuan-pertemuan itulah muncul perasaan suka, cinta tapi dari batin
ke batin. Makanya waktu saya datang melamar, Diana juga langsung terima
karena memang dia juga suka saya," tutur Irnawati mengulang ungkapan
Sulaeman.
Ditambahkan, keluarga Diana sempat menolak lamaran sang
kakek yang usianya berjarak 44 tahun dengan istri barunya ini. Tapi
saat Diana ditanya langsung soal lamaran itu, Diana justru bersedia dan
menerima lamaran itu sehingga resepsi pernikahan dilangsungkan tiga
pekan setelah Lebaran.
Pernikahan beda usai sebelumnya juga
pernah terjadi. Haji Nasir (63) seorang pengusaha sukses menikahi
Milawati (18), warga Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone, Juli 2016 lalu,
menyusul Tajuddin Kammisi (70), mantan Wakil Wali Kota Parepare yang
juga asal Kabupaten Bone tepatnya di Kecamatan Bengo menikahi Andi Fitri
(25), April 2017 lalu.
Sumber:
Merdeka.com