6/05/2026

Belajar Jaringan Komputer untuk Pemula - Modul 6: Model Jaringan

 

Belajar Jaringan Komputer untuk Pemula - Modul 6: Model Jaringan

LIPUTANBERITA21.COMKini kita memasuki tahap fundamental dalam dunia infrastruktur IT, yaitu pembahasan mengenai Model Jaringan. Pada panduan ini, kita akan mengulas secara komprehensif tentang arsitektur jaringan, standar komunikasi data, serta fungsi protokol jaringan.


Di kancah teknologi global, terdapat dua kerangka kerja utama yang paling sering dijadikan pedoman dasar, yakni Model OSI (Open System Interconnection) dan Model TCP/IP. Keduanya memiliki perbedaan karakteristik yang cukup jelas, baik dari segi operasional maupun struktur protokol pembentuknya.


Apa Itu Protokol dan Model Jaringan?

Sebelum membedah lebih jauh, sangat penting untuk memahami dua definisi teknis berikut ini:

  • Protokol Jaringan: Secara sederhana, protokol adalah sekumpulan aturan baku yang mengatur tata cara perangkat-perangkat berbeda agar dapat bertukar data dengan lancar di dalam sebuah jaringan.

  • Model Jaringan (Networking Model): Konsep ini mengacu pada rancangan arsitektur, desain, dan komponen yang menstrukturkan bagaimana sebuah komunikasi dibangun dari perangkat pengirim hingga ke perangkat penerima. Di kalangan praktisi IT, model jaringan kerap dikenal dengan istilah lain seperti protocol stacks, protocol suites, atau network stacks.


Evolusi Arsitektur: Mengapa TCP/IP Menjadi Penguasa Internet?

Menilik ke belakang dalam sejarah perkembangan teknologi, sebenarnya ada beragam model jaringan yang diciptakan oleh berbagai perusahaan untuk memenuhi infrastruktur spesifik mereka. Beberapa nama yang pernah populer antara lain AppleTalk, Systems Network Architecture (SNA-IBM), Novell Netware, dan tentunya Model OSI.


Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian besar arsitektur tersebut perlahan ditinggalkan dan dianggap usang. Penyebab utamanya adalah kemunculan dan meroketnya popularitas TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol).


Saat ini, TCP/IP telah bertransformasi menjadi standar mutlak bagi hampir seluruh sistem komunikasi komputasi modern. Bisa dibilang, TCP/IP adalah "bahasa resmi" internet. Rangkaian protokol inilah yang menjadi jantung penggerak World Wide Web (WWW), memfasilitasi miliaran perangkat dari berbagai belahan dunia untuk bisa saling terhubung dan berkomunikasi secara serempak tanpa hambatan.

BACA JUGA : Belajar Jaringan Komputer untuk Pemula - Modul 5: Bandwidth, Throughput, dan Latency


Oleh karena itu, fokus utama pada pembahasan artikel jaringan kali ini akan dititikberatkan pada arsitektur TCP/IP. Meskipun demikian, Model OSI juga akan tetap diulas secara singkat sebagai perbandingan teoritis untuk memperluas wawasan Anda mengenai cara kerja sistem komunikasi data secara menyeluruh.

Belajar Jaringan Komputer untuk Pemula : Model OSI

Panduan Model OSI: Memahami Konsep Konseptual dan Fungsi 7 Layer Jaringan

Dikutip dari amazon.com Model OSI (Open Systems Interconnection) merupakan sebuah kerangka kerja teoretis yang dirancang untuk menciptakan standar komunikasi data antarperangkat di dalam sebuah jaringan komputer. Perlu digarisbawahi bahwa model ini bersifat teoretis atau konseptual, yang berarti tidak memiliki implementasi praktis secara langsung dalam sistem operasional nyata. Fungsi utamanya adalah memberikan visualisasi terstruktur mengenai bagaimana sebuah aplikasi memproses data sebelum dikirimkan melintasi jaringan.


Meskipun hanya berupa model konseptual, pemahaman terhadap arsitektur ini sangatlah krusial. Model OSI menjadi materi wajib dalam dunia akademis serta berbagai program sertifikasi keahlian jaringan (networking certification). Alur komunikasi data dalam model ini berjalan secara berurutan, di mana informasi yang dikirimkan akan bergerak mulai dari lapisan teratas yaitu Layer 7 (Application Layer) hingga lapisan terbawah yakni Layer 1 (Physical Layer).

Belajar Jaringan Komputer untuk Pemula Model OSI

Untuk memahami mekanismenya secara lebih mendalam, mari kita bedah fungsi dari setiap lapisan model OSI, dimulai dari empat lapisan teratas:


Layer 7: Application Layer (Lapisan Aplikasi)

Application Layer menempati posisi teratas dalam hierarki model OSI. Lapisan ini menjadi satu-satunya bagian yang berinteraksi langsung dengan data yang diinput oleh pengguna. Sebagai gambaran praktis, saat Anda membuka peramban dan berniat mengakses portal informasi seperti www.liputanberita21.com, application layer inilah yang bertugas mempersiapkan instruksi permintaan (request) tersebut sebelum dilemparkan ke sistem jaringan.


Satu hal krusial yang sering disalahpahami adalah aplikasi eksternal itu sendiri—seperti Google Chrome atau Mozilla Firefox—bukanlah bagian dari application layer. Lapisan ini melainkan berisi sekumpulan aturan, layanan, atau protokol penunjang yang diandalkan oleh aplikasi tersebut agar data dapat tersaji dengan optimal. Elemen-elemen seperti cookie, header, serta protokol populer seperti HTTP, FTP, dan SMTP beroperasi sepenuhnya di dalam lapisan ini.


Layer 6: Presentation Layer (Lapisan Presentasi)

Tugas utama dari presentation layer adalah melakukan standardisasi dan konversi format data. Lapisan ini memastikan bahwa dua perangkat yang menggunakan arsitektur atau format data berbeda tetap bisa saling bertukar informasi secara akurat tanpa terjadi kesalahan pembacaan.


Operasional pada lapisan ini dibagi menjadi dua kondisi utama:

  • Sisi Pengirim Data: Bertanggung jawab dalam proses penyandian (encoding), kompresi data (compression) untuk memperkecil ukuran berkas, serta pengamanan data melalui enkripsi (encryption).

  • Sisi Penerima Data: Bertugas melakukan proses sebaliknya, yaitu menerjemahkan sandi (decoding), mengekstrak data kembali ke ukuran semula (decompression), dan membuka kunci keamanan (decryption).


Layer 5: Session Layer (Lapisan Sesi)

Session Layer memegang kendali penuh atas manajemen sesi komunikasi, mulai dari proses pembukaan koneksi, memelihara durasi interaksi, hingga menutup koneksi antarperangkat secara aman. Lapisan ini mengontrol jalannya sistem autentikasi keamanan, hak akses (authorization), serta penyelarasan data (synchronization).


Berikut adalah contoh konkret dari fungsi session layer:

  • Mempertahankan Status Akses: Ketika Anda masuk (login) ke akun pengguna di situs LiputanBerita21, lapisan ini menjaga agar status Anda tetap aktif sampai Anda secara manual menekan tombol keluar (logout).

  • Sinkronisasi Media: Saat Anda menyaksikan tayangan video di platform seperti YouTube, lapisan sesi memastikan agar keselarasan waktu (timestamp) antara audio dan visual berjalan secara beriringan tanpa jeda.

  • Fitur Checkpoint (Titik Pengaman): Apabila Anda sedang mentransmisikan berkas berukuran besar (misalnya 500 MB), lapisan ini akan membuat penanda otomatis setiap kelipatan 10 MB. Jika koneksi internet mendadak terputus saat proses mencapai 300 MB, sistem tidak perlu mengulang pengiriman dari nol. Proses transfer cukup dilanjutkan dari checkpoint terakhir, sehingga sangat efektif menghemat waktu dan kuota data.


Layer 4: Transport Layer (Lapisan Transportasi)

Transport Layer bertindak sebagai pengelola logistik dan pengiriman data. Di lapisan inilah seluruh rangkaian data berukuran besar yang diterima dari lapisan sebelumnya akan dipotong dan dipecah secara sistematis menjadi fragmen-fragmen yang lebih kecil. Di dalam dunia jaringan komputasi, kepingan data yang telah dipecah ini dikenal dengan istilah segmen (segments).

Liputanberita21 Layer 4

Layer 3: Network Layer (Lapisan Jaringan)

Liputanberita21 Layer 3

Pada Network Layer, kepingan segmen yang dikirim dari lapisan sebelumnya akan diproses lebih lanjut dan dipecah kembali menjadi unit yang disebut paket data (packets).

Setiap paket data pada lapisan ini secara struktur terbagi menjadi dua komponen utama:

  • Bagian Header: Berfungsi sebagai label informasi atau data kontrol dari paket tersebut.

  • Bagian Body (Payload): Merupakan isi atau data aktual yang sesungguhnya ingin dikirimkan.


Di dalam lapisan jaringan ini, sistem akan menyematkan IP header pada setiap paket sebelum diteruskan ke ekosistem internet. Bagi perangkat penerima, header ini sangat vital karena berfungsi sebagai panduan tentang bagaimana paket tersebut harus diproses. Di dalam header ini terdapat berbagai informasi krusial, seperti alamat IP tujuan dan pengirim, total ukuran paket, indikator pemecahan paket (fragmentation), hingga jumlah lompatan jaringan (hop count) yang telah dilalui.

BACA JUGA : 
Belajar Jaringan Komputer untuk Pemula - Modul 4: Cara Kerja Internet


Analogi Alamat IP (IP Address) Sederhananya, IP address adalah identitas unik perangkat Anda saat terhubung ke jaringan. Mari kita gunakan perumpamaan layanan pos. Alamat IP ibarat alamat rumah tujuan pengiriman. Saat Anda mengirim surat, alamat rumah yang spesifik harus dituliskan di amplop agar petugas pos (sistem jaringan) tidak kebingungan dan bisa mengantarkan surat tersebut ke lokasi yang tepat.


Layer 2: Data Link Layer (Lapisan Tautan Data)

Setelah berbentuk paket, data akan turun ke Data Link Layer. Di lapisan ini, paket data akan dipecah lagi ke dalam wujud yang disebut bingkai atau frames.

Liputanberita21 Layer 2


Selain memecah ukuran data, tugas utama dari data link layer adalah menempelkan alamat fisik pengirim (source) dan alamat fisik penerima (destination) pada setiap frame. Alamat fisik dalam dunia jaringan komputasi dikenal luas dengan istilah MAC Address (Media Access Control Address).


Berbeda dengan alamat IP yang menunjukkan lokasi koneksi, MAC Address merupakan deretan kode identifikasi permanen yang sudah ditanamkan langsung oleh pabrik pada perangkat keras jaringan Anda (seperti kartu jaringan atau NIC).


Analogi MAC Address Melanjutkan metafora layanan pos sebelumnya: jika IP address adalah alamat rumahnya, maka MAC address adalah nama lengkap Anda yang tertera di surat tersebut. Penggabungan keduanya memastikan bahwa surat tidak hanya tiba di rumah yang benar, tetapi juga diterima langsung oleh orang yang tepat.


Layer 1: Physical Layer (Lapisan Fisik)

Inilah lapisan paling dasar dan terbawah dari arsitektur model OSI. Sesuai namanya, Physical Layer berhubungan langsung dengan infrastruktur perangkat keras secara fisik, mencakup kabel LAN, switch, router, maupun menara pemancar sinyal.


Pada tahapan final inilah rancangan frame dari lapisan sebelumnya akan dikonversi menjadi aliran sinyal biner murni, yakni bit (angka 1 dan 0). Aliran bit mentah inilah yang kemudian ditransmisikan secara fisik melalui medium kabel tembaga, serat optik, atau gelombang radio udara melintasi jaringan internet hingga akhirnya tiba di perangkat penerima.


Simulasi Cara Kerja Model OSI: Studi Kasus Pengiriman Pesan


Setelah membedah definisi dan fungsi dari ketujuh lapisan (layer) di atas, wajar jika Anda masih merasa sedikit kebingungan membayangkan praktiknya. Untuk mengikat seluruh pemahaman teoritis tersebut, mari kita simulasikan dengan sebuah contoh kasus sehari-hari yang mudah dipahami.


Bayangkan Anda sedang mengetik teks dan mengirimkannya kepada rekan kerja melalui aplikasi perpesanan seperti Slack. Begitu Anda menekan tombol Enter, terjadi sebuah proses komunikasi data yang sangat cepat dan terstruktur.


Fase 1: Enkapsulasi Data di Sisi Pengirim (Alur Turun)

Pada perangkat Anda sebagai pengirim, pesan akan bergerak dari lapisan teratas menuju lapisan terbawah:

  1. Application Layer: Aplikasi Slack menyerahkan data teks Anda ke lapisan ini. Sistem kemudian memilih protokol yang relevan (seperti HTTP) dan menyiapkan instruksi permintaan (request) jaringan.

  2. Presentation Layer: Data mentah tersebut lalu dikemas. Di tahap krusial ini, pesan Anda akan dienkripsi (encryption) agar aman dari peretas dan dikompresi agar ukurannya lebih ringan untuk dikirim.

  3. Session Layer: Lapisan ini membuka jalur dan mengatur sesi komunikasi dengan server tujuan, lalu meneruskan paket data ke lapisan bawahnya.

  4. Transport Layer: Kumpulan data tersebut mulai dipecah menjadi bagian-bagian lebih kecil yang disebut segmen. Sistem juga menetapkan nomor port aplikasi untuk setiap segmen.

  5. Network Layer: Segmen-segmen tadi dipotong lagi menjadi bentuk paket (packets). Pada tahap inilah IP Address asal dan IP Address tujuan disematkan bagaikan menulis alamat di atas amplop.

  6. Data Link Layer: Paket data selanjutnya dibungkus menjadi bingkai (frames). Sistem kemudian menempelkan alamat fisik atau MAC Address pada masing-masing frame.

  7. Physical Layer: Di titik akhir perangkat Anda, frame dikonversi wujudnya menjadi aliran sinyal bit (angka biner 1 dan 0). Sinyal inilah yang dilontarkan melintasi kabel LAN atau gelombang nirkabel (Wi-Fi) menuju internet.


Fase 2: Dekapsulasi Data di Sisi Penerima (Alur Naik)

Setibanya di perangkat rekan kerja Anda, siklus berbalik 180 derajat. Aliran data tersebut dibongkar dari lapisan paling dasar hingga merangkak naik ke permukaan:

  1. Physical Layer: Aliran bit biner (1 dan 0) yang ditangkap oleh perangkat keras penerima dikonversi kembali ke wujud frame.

  2. Data Link Layer: Lapisan ini membaca MAC address, lalu membongkar frame tersebut menjadi paket data untuk dinaikkan ke lapisan berikutnya.

  3. Network Layer: Setelah IP address dikonfirmasi sesuai, paket data dibongkar lagi menjadi segmen.

  4. Transport Layer: Segmen-segmen yang datang secara terpisah kemudian dirakit dan disusun ulang secara berurutan menjadi struktur data yang utuh.

  5. Session Layer: Lapisan ini menerima data, memantau riwayat sesi, dan menutup sesi interaksi jika proses transfer telah selesai.

  6. Presentation Layer: Sandi keamanan pesan kini dibuka (decryption) dan ukurannya dikembalikan ke format semula (decompression).

  7. Application Layer: Pada pemberhentian terakhir, lapisan ini menyerahkan data matang tersebut ke aplikasi. Hasilnya, teks yang Anda kirimkan pun sukses ditampilkan secara visual di layar aplikasi Slack milik rekan Anda.


Jika dianimasikan akan seperti berikut ini : (sumber : dicoding.com)
Liputanberita21 visualisasi layer
Sumber: dicoding


Untuk Selanjutnya, kita akan menilik model TCP/IP yang merupakan model jaringan paling populer dan standar dari internet saat ini.

Arsitektur Model TCP/IP: Evolusi, 5 Lapisan, dan Perbandingannya dengan OSI


Sama halnya dengan Model OSI, arsitektur TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol) pada awalnya dirancang untuk menciptakan standar baku dalam proses komunikasi antarperangkat di sebuah jaringan. Lalu, di mana letak perbedaannya?


Dikutip dari telkom university Perbedaan paling mendasar terletak pada penerapannya di dunia nyata. Jika Model OSI lebih bersifat teoretis dan sebatas konsep konseptual, model TCP/IP merupakan arsitektur praktis yang menjadi pondasi utama jalannya jaringan internet global hingga detik ini. Secara struktur, OSI memiliki 7 lapisan (layer), sementara model TCP/IP modern beroperasi hanya dengan 5 lapisan.


Sejarah Evolusi TCP/IP: Dari 4 Layer Menjadi 5 Layer

Apabila Anda menelusuri literatur lawas, Anda mungkin akan menemukan versi TCP/IP yang hanya memiliki 4 lapisan. Versi klasik ini—sering disebut sebagai Original TCP/IP Model—dikembangkan secara khusus oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat dan diresmikan melalui dokumen RFC 1122 pada tahun 1989. Keempat lapisannya terdiri dari: Application, Transport, Internet, dan Link layer.


Namun, seiring pesatnya kemajuan teknologi informasi, arsitektur klasik tersebut telah diperbarui menjadi 5 layer. Pada model TCP/IP versi mutakhir ini, terdapat dua penyesuaian utama:

  1. Lapisan Internet berganti nama menjadi Network Layer.

  2. Lapisan Link (yang paling bawah) dipecah menjadi dua bagian terpisah, yaitu Data Link Layer dan Physical Layer.


Sehingga urutan lengkap TCP/IP modern saat ini adalah: Application Layer, Transport Layer, Network Layer, Data Link Layer, dan Physical Layer.

Belajar Jaringan Komputer untuk Pemula : TCP/IP Layer


Mengapa Link Layer Perlu Dipecah Menjadi Dua?

Pertanyaan logis yang sering muncul adalah: apa alasan di balik pemecahan lapisan Link tersebut?


Jawabannya terletak pada ragam teknologi konektivitas. Di masa lampau, opsi untuk terhubung ke jaringan sangat terbatas, umumnya hanya mengandalkan jenis kabel tembaga standar. Kondisi tersebut membuat penggabungan urusan koneksi fisik (physical connection) dan pengiriman data (data delivery) ke dalam satu lapisan dinilai masih efisien.


Bandingkan dengan era digital saat ini. Kita memiliki segudang teknologi koneksi fisik yang jauh lebih kompleks, mulai dari kabel Ethernet, koneksi nirkabel Wi-Fi, hingga teknologi Fiber Optic. Keberagaman infrastruktur inilah yang memaksa para ahli untuk memisahkan fungsi fisik dan pengaturan datanya menjadi dua lapisan tersendiri agar proses komunikasi berjalan lebih optimal.


(Catatan: Untuk materi pembelajaran jaringan komputasi modern, istilah "Model TCP/IP" secara default akan selalu merujuk pada versi terbaru dengan 5 lapisan ini).


Pemetaan Ringkas: Model OSI vs TCP/IP Modern

Untuk mempermudah ingatan Anda, mari kita bandingkan bentuk fisik kedua arsitektur jaringan ini. Konversinya sebenarnya sangat sederhana.

Liputanberita21 TCP/IP dan OSI Model

Jika diperhatikan secara saksama, tiga lapisan teratas pada Model OSI (yakni Application Layer, Presentation Layer, dan Session Layer) dilebur dan disederhanakan fungsi dan tugasnya menjadi satu lapisan tunggal saja di TCP/IP, yaitu Application Layer. Sementara itu, fungsi dan urutan lapisan-lapisan di bawahnya tetap identik.


Di setiap lapisan model TCP/IP, terdapat serangkaian protokol tertentu yang digunakan untuk membantu komunikasi melalui jaringan. Tabel di bawah ini menunjukkan urutan layer, nama layer, dan protokol yang digunakan.

Liputanberita21 TCP/IP Protocol

Membedah Fungsi 5 Lapisan Model TCP/IP dan Protokolnya


Setelah memahami bahwa arsitektur TCP/IP modern terdiri dari lima tahapan (layer), kini saatnya kita menyelami lebih dalam mengenai peran, fungsi spesifik, serta jenis protokol yang bekerja pada masing-masing lapisan tersebut.

Layer 5: Application Layer (Lapisan Aplikasi)

Pada model TCP/IP, Application Layer mengambil alih seluruh beban kerja yang sebelumnya dibagi ke dalam session layer dan presentation layer pada model OSI. Lapisan ini berinteraksi langsung dengan aplikasi yang Anda gunakan sehari-hari.

Di sinilah bermarkas berbagai macam protokol jaringan yang sangat populer, di antaranya:

  • HTTP (Hypertext Transfer Protocol): Menjembatani proses akses dan penjelajahan situs web.

  • SMTP (Simple Mail Transfer Protocol): Mengatur lalu lintas pengiriman dan penerimaan surat elektronik (e-mail).

  • FTP (File Transfer Protocol): Memfasilitasi proses perpindahan atau transfer berkas antarperangkat.

  • SSH (Secure Shell): Menyediakan jalur aman untuk melakukan akses (login) ke komputer secara jarak jauh.

  • DNS (Domain Name System): Sistem yang menerjemahkan alamat IP rumit menjadi nama domain yang mudah diingat.

  • DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol): Bertugas mendistribusikan alamat IP secara otomatis kepada perangkat yang terhubung.


Layer 4: Transport Layer (Lapisan Transportasi)

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa saat Anda membuka aplikasi peramban (browser) dan aplikasi e-mail secara bersamaan di satu komputer, data halaman web yang Anda muat tidak tertukar masuk ke kotak masuk e-mail?


Di sinilah Transport Layer unjuk gigi. Lapisan ini bertugas menyortir aliran data dan memastikan setiap paket informasi diterima oleh aplikasi klien (client) yang tepat. Terdapat dua protokol utama yang beroperasi di lapisan ini:

  • TCP (Transmission Control Protocol): Bersifat connection-oriented. Protokol ini sangat mengutamakan keandalan (reliable data delivery). TCP akan memastikan data sampai dengan utuh dan akurat, tanpa ada bagian yang hilang atau korup.

  • UDP (User Datagram Protocol): Bersifat connectionless atau tanpa koneksi prasyarat. Berbeda dengan TCP, UDP tidak menjamin keandalan pengiriman data (unreliable), namun proses transmisinya jauh lebih cepat. (Detail perbedaan ini akan kita ulas pada modul berikutnya).


Layer 3: Network Layer (Lapisan Jaringan)

Network Layer adalah jembatan yang memungkinkan komunikasi lintas jaringan dengan memanfaatkan perangkat yang disebut router. Jika perangkat pintar di rumah Anda sedang mengakses server website di luar negeri, lapisan inilah yang mencari dan menentukan rute terbaik agar paket data bisa melintasi berbagai kumpulan jaringan global hingga sampai ke tujuan.


Protokol paling vital yang menggerakkan lapisan ini adalah IP (Internet Protocol). IP bisa diibaratkan sebagai jantung operasional internet yang menghubungkan hampir seluruh infrastruktur jaringan di dunia.


Layer 2: Data Link Layer (Lapisan Tautan Data)

Menurun ke lapisan kedua, kita menjumpai Data Link Layer. Tugas utama dari lapisan ini adalah menciptakan aturan baku dalam menafsirkan dan menerjemahkan sinyal, sehingga berbagai perangkat keras jaringan bisa saling mendeteksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan lancar.


Meskipun memuat berbagai macam protokol, standar teknologi komunikasi yang paling mendominasi operasional di lapisan ini adalah jaringan kabel Ethernet dan jaringan nirkabel Wi-Fi.


Layer 1: Physical Layer (Lapisan Fisik)

Sebagai fondasi paling dasar, Physical Layer merepresentasikan seluruh elemen berwujud (perangkat keras) yang membangun sebuah infrastruktur jaringan.

Lapisan fisik ini mengatur spesifikasi teknis dari komponen keras tersebut, mulai dari jenis kabel jaringan, standar soket atau konektor, hingga mekanisme bagaimana sinyal mentah ditransmisikan melintasi media koneksi tersebut. Beberapa contoh standar yang bekerja di lapisan ini meliputi arsitektur 10 Base T (standar kecepatan untuk kabel Ethernet) serta 802.11 (spesifikasi standar untuk transmisi radio Wi-Fi).


Baca Juga

Liputanberita21.com adalah suatu portal berita media yang berada di Indonesia yang berbasis Online yang menyajikan segala jenis Informasi seperti Lowongan kerja,Berita Lampung,Ilmu Pengetahuan,Dunia dan masih banyak lagi lainnya. Liputan Berita 21 di pada tanggal 21/06/2017.

Silakan komentar dengan bahasa indonesia yang baik dan sesuai dengan topik pembahasan
EmoticonEmoticon