LIPUTANBERITA21.COM - Dunia maya saat ini tengah menghadapi tantangan infrastruktur yang sangat masif, yaitu menipisnya ketersediaan alamat IPv4 (Internet Protocol version 4).
Secara teknis, arsitektur IPv4 dirancang menggunakan format 32-bit. Kapasitas ini membatasi jumlah maksimal alamat IP unik hanya di angka sekitar 4 miliar kombinasi. Pada era awal penciptaan internet, angka tersebut mungkin terdengar sangat berlimpah. Namun, seiring berjalannya waktu, ledakan popularitas internet jauh melampaui prediksi para perintisnya.
BACA JUGA : Belajar Jaringan Komputer untuk Pemula - Modul 8: Pengenalan IP Address
Mari kita lihat realitanya. Pada tahun 2017, populasi penduduk bumi telah menembus angka 7 miliar jiwa. Hampir sebagian besar dari populasi tersebut memiliki perangkat pintar, dan tidak jarang satu orang memiliki lebih dari satu gawai (ponsel, tablet, laptop, hingga perangkat smart home). Akibatnya, alokasi 4 miliar alamat IPv4 menjadi sangat tidak memadai. Ancaman kehabisan alamat IP ini telah menjadi fokus utama dan kekhawatiran para pakar teknologi dunia selama lebih dari satu dekade terakhir.
Mengenal Otoritas Pengelola Alamat IP Global (IANA & RIR)
Untuk menjaga ketertiban distribusi, sistem pengalamatan IP dunia dikendalikan secara terpusat oleh IANA (Internet Assigned Numbers Authority). IANA kemudian mendelegasikan blok-blok alamat IP tersebut kepada lima badan registrasi regional yang dikenal sebagai RIR (Regional Internet Registries).
Berikut adalah lima badan otoritas RIR beserta wilayah yurisdiksinya:
AFRINIC (African Network Information Center): Bertanggung jawab atas pendistribusian alamat IP di seluruh benua Afrika.
ARIN (American Registry for Internet Numbers): Mengelola wilayah Amerika Serikat, Kanada, sebagian kawasan Karibia, dan Antarktika.
APNIC (Asia-Pacific Network Information Centre): Melayani wilayah dengan populasi terpadat, mencakup Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Timur, dan Oseania.
LACNIC (Latin America and Caribbean Network Information Centre): Bertugas mendistribusikan alamat IP untuk seluruh negara di Amerika Latin dan sebagian besar Karibia.
RIPE NCC (Réseaux IP Européens Network Coordination Centre): Menangani wilayah Eropa, Rusia, Asia Tengah, hingga Asia Barat (Timur Tengah).
Garis Waktu Habisnya Persediaan IPv4
Krisis menipisnya stok IPv4 secara resmi dimulai pada 31 Januari 2011. Pada momen krusial tersebut, IANA menyerahkan 2 blok IPv4 terakhirnya kepada APNIC. Langkah ini otomatis memicu protokol kebijakan global, di mana IANA harus membagi rata sisa alokasi alamat yang ada kepada kelima RIR.
BACA JUGA : Belajar Jaringan Komputer untuk Pemula - Modul 7: Protokol Jaringan TCP/IP
Tak lama setelah pembagian tersebut, NRO (Number Resource Organization) mendeklarasikan bahwa stok utama IPv4 di tingkat global (IANA) telah benar-benar kosong. Ini berarti IANA tidak lagi memiliki cadangan alamat IPv4 untuk didistribusikan ke badan-badan regional.
Efek domino pun terjadi. Perlahan tapi pasti, kelima RIR ikut kehabisan alokasi alamat standar mereka (kecuali beberapa blok kecil yang disisihkan khusus untuk kebutuhan transisi ke teknologi baru, IPv6). Berikut adalah rekam jejak habisnya stok IPv4 di masing-masing regional:
15 April 2011: APNIC menjadi RIR pertama yang kehabisan stok.
10 Juni 2014: Disusul oleh wilayah LACNIC.
24 September 2015: ARIN menyatakan kehabisan persediaan.
21 April 2017: Wilayah AFRINIC menyusul.
25 November 2019: RIPE NCC menjadi penutup rantai krisis persediaan IPv4 secara global.

Silakan komentar dengan bahasa indonesia yang baik dan sesuai dengan topik pembahasan
EmoticonEmoticon